Senin, 08 Oktober 2012

MAKALAH KAKAO





BAB I
PENDAHULUAN
Kakao merupakan salah satu komoditas perkebunan yang peranannya cukup penting bagi perekonomian nasional dengan sebaran sentra penanaman yang cukup banyak dan tumbuh dengan baik di Indonesia. Kakao juga telah lama menjadi salah satu komoditi ekspor unggulan Indonesia yang memiliki kontribusi yang cukup besar dalam menghasilkan devisa negara. Di samping itu, kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan wilayah dan pengembangan agroindustri.
Indonesia sebenarnya berpotensi untuk menjadi produsen utama kakao dunia apabila berbagai permasalahan utama yang dihadapi perkebunan kakao dapat diatasi dan agribisnis kakao dikembangkan dan dikelola secara baik.Dari segi kualitas, kakao Indonesia tidak kalah dengan kakao dunia dimana bila  dilakukan fermentasi dengan baik dapat mencapai cita rasa setara dengan kakao yang berasal dari Ghana. Kelebihan kakao Indonesia antara lain adalah kakao Indonesia tidak mudah meleleh sehingga cocok bila dipakai untuk blending. Sejalan dengan keunggulan tersebut, peluang pasar kakao Indonesia cukup terbuka baik ekspor maupun kebutuhan dalam negeri. Dengan kata lain, potensi untuk menggunakan industri kakao sebagai salah satu pendorong pertumbuhan dan distribusi pendapatan cukup terbuka.
Indonesia masih memiliki lahan potensial yang cukup besar untuk pengembangan kakao yaitu lebih dari 6,2 juta ha terutama di Irian Jaya, Kalimantan Timur, Sulawesi Tengah, Maluku dan Sulawesi Tenggara. Disamping itu kebun yang telah dibangun masih berpeluang untuk ditingkatkan produktivitasnya karena produktivitas rata-rata saat ini kurang dari 50 % potensinya. Di sisi lain situasi perkakaoan dunia beberapa tahun terakhir sering mengalami defisit, sehingga harga kakao dunia stabil pada tingkat yang tinggi bahkan cenderung dari tahun ke tahun terus meningkat. Posisi akhir harga kakao dunia tahun 2006 mencapai US$ 1,58,7/lb atau US$ 49,39 jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga pada tahun 2001 sebesar US$ 49,39 /lb. Kondisi ini merupakan suatu peluang yang baik untuk segera dimanfaatkan.
Kalimantan Timur merupakan Provinsi yang mempunyai potensi besar bagi pengembangan komoditi tanaman kakao di Indonesia.Kakao merupakan salah satu komoditi unggulan di Provinsi ini. Pada tahun 2006, luas areal kakao mencapai 41.312,50 ha tersebar di hampir seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Kalimantan Timur dengan produksi mencapai 26.774 ton (produktivitas 1,02 ton/ha). Wilayah Provinsi Kalimantan Timur yang luas berpotensi untuk dilakukannya pengembangan kakao melalui perluasan areal tanam.
Untuk menghasilkan tanaman kakao dengan produk biji yang berkualitas, maka harus dimulai dari penanaman benih yang berkualitas pula.Tingginya minat terhadap perkebunan kakao ini, harus dibarengi dengan pengadaan suber benih yang berkualitas dan tersertifikasi. Benih yang bermutu tinggi akan mengurangi peluang terjadinya kegagalan dalam berkebun kakao.
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia No.12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Pertanian Bab I ketentuan umum pasal 1 ayat 4 disebutkan bahwa benih tanaman yang selanjutnya disebut benih, adalah tanaman atau bagiannya yang digunakan untuk memperbanyak dan atau mengembangbiakkan tanaman.Dalam buku lain tertulis benih disini dimaksudkan sebagai biji tanaman yang dipergunakan untuk tujuan pertanaman.
Benih tersertifikasi adalah benih yang memang dijamin kualitasnya dalam hal kemurnian, persen tumbuh, persen kecambah dan persen jadi kakao. Untuk bias memperoleh benih yang demikian maka ada beberapa tahap yang harus dilakukan, sehingga dapat diproduksi benih yang dijamin kualitasnya. Oleh karena itu pada tulisan ini akan dibahas beberapa hal yang perlu dilakukan untuk memproduksi benih kakao yang berkualitas dan tersertifikasi. Sehingga dapat mengurangi resiko kegagalan dalam agribisnis jenis kakao ini.

BAB II
ISI
Proses pembuatan benih kakao dilaksanakan melalui tahapan pemilihan- pemilihan pohon, buah dan biji serta pembuatan benih
A.    Kebun benih
Benih merupakan bahan tanaman yang berupa biji.Sedangkan biji sendiri berasal dari peleburan sel jantan dan betina pada bunga.Sehingga pada dasarnya benih merupakan sifat gabungan dari kedua induknya. Biji yang baik belum tentu akan menjadi benih yang baik pula. Karena berdasarkan asa Krebs bahwa Fenotipe tanaman atau bentuk fisik tanaman merupakan interaksi antara genetik biji dengan lingkungan sekitarnya.Karena genetik ini berasal dari kedua induk tanaman, maka untuk memperoleh biji atau benih yang berkualitas harus bersumber dari indukan yang berkualitas pula.Oleh karena itu produksi benih yang berkualitas harus bersumber dari sumber benih yang berkualitas.
Kebun benih merupakan suatu areal yang luas yang difungsikan sebagai sumber benih. Kebun ini di bangun bukan untuk menghasilkan buah yang dijadikan bahan baku coklat, tetapi lebih kepada biji untuk suber benih selanjutnya. Areal ini hanya ditanami oleh pohon kakao yang bersifat superior.Pohon-pohon ini memang dipilih dan diuji kelayakannya menjadi sumber benih.Biasanya pohon-pohon yang ditanam merupakan hasil klon dari indukan yang berkuliatas baik.
Pohon yang dipilih sebagai sumber benih yaitu pohon yang memiliki daya hasil yang tinggi, tahan hama penyakit dan mempunyai adapatasi terhadap lingkungan. Sebaiknya pohon yang telah beberapa kali menghasilkan.Dengan dikumpulkannya tanaman-tanaman kakao yang bersifat superior ini, diharapkan dapat menghasilkan benih-benih yang unggul.Sebelum benih dari kebun ini diproduksi, harus dilakukan tahapan-tahapan pengujian salah satunya adalah uji provenasns (tempat tumbuh) dan uji progeny (hasil keturunannya), dan pada akhirnya disisakan anaman-tanaman superior yang dipastikan menghasilkan benih unggul.
B.     Pemilihan Buah
Pemilihan buah yang baik sangat dibutuhkan dalam pembuatan benih Kakao.Hal ini bertujuan untuk mendapatkan mutu benih yang baik dan mempunyai daya tumbuh yang baik pula.Pemilihan buah dari batang, cabang dan ranting pohon dapat sebagai sumber benih.Untuk sumber benih yang dipilih adalah buah yang masaknya tepat (warna kulit buah sudah berubah, dari buah yang masih muda berwarna hijau menjadi buah yang berwarna kuning jika sudah masak atau warna merah (buah muda) menjadi oranye /buah yang masak) dan isi buah telah kocak.
Buah yang belum masak menghasilkan benih yang daya tumbuhnya rendah dan bibit yang lemah.Sedang buah yang lewat masak menghasilkan biji yang telah berkecambah dan tak dapat digunakan untuk benih.Oleh karena itu untuk menjadi benih, dipilih buah yang betul-betul sudah masak. Kemudian buah kakao yang telah masak dipilih yang sehat dan bentuknya normal dengan ciri-ciri :tidak mengkerut, tidak berbintik hitam serta masih utuh. Ukuran buah yang baik untuk benih adalah berat buah segar tidak kurang dari 350 gram dan volume buah tidak kurang dari 400 ml.
C.     Pemilihan biji
Biji yang digunakan sebagai benih dapat berasal dari bagian ujung, tengah dan pangkal buah serta bernas yaitu berisi dan berukuran sedang.Biji aat, memar dan lunak tidak boleh digunakan sebagai benih.Ukuran biji untuk benih bervariasi tergantung pada jenisnya dengan kisaran berat 100 biji adalah 100 gram.


D.    Pembuatan benih
Setelah buah dipetik dari pohon, dikumpulkan dan diangkut ke tempat proses pembuatan benih. Sebelum dilakukan pembelahan buah, dilakukan pemilihan buah-buah yang masak dan sehat.Buah yang baik dibelah melintang menggunakan alat pemukul, dilakukan secara hati-hati jangan sampai melukai biji. Kemudian Biji berdaging buah (pulp) dikeluarkan dari buah dan dicampur dengan air kapur 2,5 % (25 gram per liter air) selama 30 detik. Satu liter larutan air kapur digunakan untuk 1000 benih. Campuran pulp dengan air kapur dimaksudkan untuk menggumpalkan daging buah sehingga lebih mudah dikupas. Setelah pulp dikeluarkan dari air kapur dicuci dengan air bersih untuk menghilangkan kapur yang menempel pada biji.
Pencucian biji dilakukan 2-3 kali sampai biji benar-benar bersih dari kapur. Kemudian biji dihilangkan dagingnya dengan ara mengupas kulit. Pengupasan kulit biji dilakukan dengan tangan.Sedapat mungkin dihindari biji terluka pada waktu pengupasan.Kemampuan mengupas kulit biji perorang per jam 350 butir. Benih setelah selesai dikupas, dicuci dengan air bersih untuk menghilangkan kapur yang mungkin masih tersisa pada benih.Untuk melindungi benih dari serangan jamur digunakan fungisida. Untuk 1 liter larutan fungisida, konsentrasi larutan fungisida yang digunakan adalah 1 % (10 gram fungisida untuk 2000 benih untuk 4 kali merendam (setiap merendam 500 benih). Larutan diaduk merata 5-10 menit, selanjutnya benih ditiris dan diturunkan kadar airnya sampai kering.
Penurunan kadar air benih, Kadar air benih sewaktu basah sekitar 50% dan untuk Pengangkutan pengiriman perlu diturunkan sampai mencapai kering 40 % yaitu dengan mengangin-anginkan pada tempat yang teduh. Benih mencapai kering ditandai dengan tidak adanya bintik air pada permukaan benih dan jika dipijit tidak mengeluarkan air.Pengeringan dilakukan dengan menyebar benih secara merata pada kotak pengering atau tampah.Untuk mempercepat benih kering dilakukan pembalikan benih berulang-ulang dengan tangan.
E.     Pengepakan benih
Benih yang telah kering dimasukkan dalam kantong plastik.Setiap kantong berisi 500 benih dan ditutup rapat.Kantong-kantong plastik yang berisi benih disusun dalam peti karto yang diberi serbuk gergaji yang kering dan bersih yang fungsinya sebagai penyangga suhu dalam karton agar relatif tetap.Setiap peti karton berisi 10 kantong plastik (5000 butir benih). Selanjutnya peti karton ditutup dengan perekat dan bagian luar kantor diantumkan keterangan (nama dan alamat tujuan dan pengirim, jenis benih, jumlah benih dan tanggal pegiriman).
F.      Pengiriman benih
Dalam pengiriman benih perlu diperhatikan kondisi sekitar peti karton agar benih tetap baik sampai ditempat tujuan.Perlu diperhatikan suhu ruangan tidak terlampau panas/ tidak melebihi 35 derajat celius, peti karton tidak boleh ditempatkan pada cahaya matahari langsung dan dijaga agar tidak mengalami kerusakan.Pengangkutan benih dengan menggunakan angkutan darat/ udara/ laut sesuai tujuan.Segera setelah benih diterima ditempat tujuan, dilakukan penyemaian.Oleh karena itu tempat penyemaian perlu dipersiapkan terlebih dahulu.Dengan metode ini mampu mempertahankan daya tumbuh diatas 80 % setelah 3- 4 minggu.





DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2008, Produksi Benih Kakao.Diakses dari www.deptan.go.id pada Januari 2012
Asia, 2006, Pedoman Teknis Pembangunan Kebun Induk Kakao . Direktorat Jenderal Perkebunan: Jakarta


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar